Jangan Gagal Paham, Ini Perbedaan Antiseptik dan Disinfektan


April 9, 2020

Tak ada liga champion, konser BTS, tiap berita live selalu tentang update kondisi COVID-19. Benar, seluruh dunia sedang disibukkan oleh wabah ini. Hingga sekolah diliburkan, pasar ditutup, ruang ibadah dijaga, gerak kita di tempat umum pun dibatasi. Pemerintah juga belum terlihat capek mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan kita agar terhindar dari virus corona. Salah satu kampanyenya adalah dengan penggunaan cairan antiseptik dan disinfektan untuk membunuh virus serta bakteri-bakteri yang berbahaya. Dua benda ini pun naik daun. Masyarakat mulai berburu, dan menggunakannya dengan bebas. Masalahnya, tak sedikit yang menggunakannya tanpa tahu bahwa kedua benda ini berbeda!

Perbedaan paling mendasar dari antiseptik dan disinfektan adalah pada kegunaannya. Hal ini didukung dengan komposisi dan konsentrasi yang berbeda antara kedua larutan ini. Antiseptik adalah cairan kimia ramah kulit yang digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup, seperti pada permukaan kulit manusia. Oleh sebab itu, kita sering menemukan adanya kandungan antiseptik di dalam sabun mandi atau hand sanitizer.

Sedangkan disinfektan adalah cairan kimia yang digunakan untuk mensterilisasi benda mati dari mikroorganisme. Kandungan zat aktifnya juga memiliki fungsi yang mirip dengan antiseptik, yaitu untuk membunuh atau mengurangi laju pertumbuhan kuman berbahaya. Namun ingat, disinfektan baik digunakan hanya untuk benda mati. Jika antiseptik mudah ditemukan di sabun mandi, disinfektan sering kita temukan pada produk pembersih lantai, porselen, atau pemutih pakaian.

Bisa dipahami mengapa masyarakat masih sering menggunakan dua buah cairan ini dengan salah kaprah. Pasalnya, baik antiseptik atau disinfektan pada umumnya sama-sama mengandung zat kimia berjenis biosida. Jenis biosida yang paling umum ditemukan adalah hidrogen peroksida. Namun, konsentrasi senyawa ini pada antiseptik dan disinfektan akan berbeda. Pada produk antiseptik, jumlah hidrogen peroksida hanya berkisar 0.2% dari total volume larutan. Sedangkan untuk produk disinfektan, konsentrasinya harus dijaga hingga 1%.

Baca Juga :  6 Langkah Anti Miskin Saat Wabah Corona

Agar lebih jelas, bayangkan dokter yang akan melakukan operasi bedah pada seorang pasien. Sebelum memulai, dokter akan membersihkan permukaan kulit pasien dengan larutan antiseptik, dan membersihkan alat-alat bedah menggunakan cairan disinfektan.

Dari fakta dan contoh di atas dapat dikatakan bahwa disinfektan merupakan larutan kimia yang lebih kuat dibandingkan antiseptik. Namun, perlu diketahui bahwa lapisan mukosa atau kulit kita sangat sensitif terhadap zat-zat biosida. Oleh sebab itu, cairan antiseptik yang digunakan untuk pembersih tangan hanya mengandung 0.2% senyawa hidrogen peroksida. Faktanya, angka tersebut sudah cukup efektif untuk membunuh beberapa mikroorganisme seperti virus.

Biosida sendiri efektif digunakan dalam memerangi mikroorganisme dengan cara berinteraksi dengan dinding sel yang menyebabkan meluruhnya organisme tersebut. Dengan hancurnya dinding sel, virus bisa langsung rusak dalam beberapa detik kemudian. Selain itu, beberapa antiseptik juga dapat menghambat proses sintesis lemak jenuh sehingga perkembangan bakteri akan terhenti. Ketika proses replikasinya terhenti, bakteri akan mati.

Karena biosida termasuk senyawa yang beracun, penggunaannya pun tidak boleh terlalu banyak. Semisal, kita tidak bisa menggantikan proses mencuci tangan dengan penggunaan hand sanitizer. Dalam kasus yang lebih parah, kita harus menghindari kontak langsung cairan disinfektan terhadap kulit. Jadi cukup aneh melihat cairan disinfektan akhir-akhir ini justru digunakan dengan cara disemprotkan ke seluruh tubuh dengan niat sterilisasi tubuh oleh virus corona.

Sekarang, setelah tahu perbedaan antiseptik dan disinfektan, semoga kita bisa menjadi agen pendidik di daerah sekitar kita ya!

Related